04.11.08
Titi dan Tutut
Kita masih ingat ketika aktor agak terkenal Indonesia, Ongky Alexander menikah dengan Paula, anak buah Mbak Tutut, (yang konon kabarnya suka berlesbi-ria dengan Tutut … konon lho).
Beberapa minggu setelah pernikahan mereka, seorang wartawan kita menanyakan pengalaman pertama Paula bersama Ongky, “Bagaimana pendapat Mbak Paula, mengenai pengalaman malam pertama bersama Ongky?”
“Wah, … ternyata titit lebih enak daripada Tutut!,” jawab Paula dengan antusiasnya.
Kentut Sehat
Soeharto mengadakan kunjungan kenegaraan ke Inggris. Ratu Elizabeth, yang sadar bahwa Indonesia merupakan partner bisnis yang potensial, menyambutnya secara kebesaran. Dari bandara sudah disediakan kereta kerajaan yang ditarik tujuh ekor kuda putih yang cantik, yang akan membawa tamu negara ke Istana Buckingham.
Setelah upacara penyambutan, Elizabeth menyilakan Presiden Indonesia naik. Begitulah mereka berdua dalam kereta. Di tengah perjalanan, tanpa ditemani penterjemah, Soeharto terus mengangguk sopan mendengarkan penjelasan Sri Ratu tentang gedung dan taman yang mereka lewati sepanjang jalan.
Syahdan, di dekat Taman Hyde Park, salah seekor kuda kereta kerajaan kentut keras sekali. Dan bau sekali. Sri Ratu agak malu, dan dengan tersipu-sipu dia bilang, “Tuan Presiden maaf, ya…”
Soeharto mengangguk, “O, tidak apa-apa, Baginda. Kentut itu sehat. Wong tadinya saya sangka yang kentut itu kuda, kok”.
Sama-sama Bego
Suyono dan Syarwan pergi mancing, mengikuti jejak Soeharto. Mereka menyewa satu perahu dan berangkat ke arah Pulau Seribu.
Di laut dekat Pulau Putri, mereka berhasil menangkap seekor ikan barakuda yang besar. Mereka saling bersalaman, saking gembira. “Ayo kita tandai laut itu, supaya kalau kita mancing lain kali bisa mudah menemukan tempatnya”, usul Syarwan. Suyono setuju. Ia pun mengambil cat hitam dan terjun ke laut, dan membuat satu huruf “X” di suatu tempat, dan satu-satunya tempat yang bisa ia cat adalah dasar perahu.
Syarwan punya ide yang lebih bargus: “Yon, tandanya dibikin besar, dong. Biar ‘ntar mudah dicari kalau kita pakai perahu ini lagi.”
Jangan Minta Yang satu Itu
Suatu malam, lewat mimpi Malaikat Jibril mendatangi Soeharto. Jibril mengatakan pada Harto, bahwa waktunya sudah tiba untuk segera meninggalkan dunia.
“Kamu sudah terlalu lama berkuasa,” ujar Jibril.
Soeharto pun minta waktu untuk mempersiapkan diri. Ia ingin membagikan warisannya yang sangat banyak kepada anak-anaknya secara adil.
Keesokan harinya ia mengumpulkan seluruh anak cucunya. Turut menyaksikan adalah sejumlah pejabat tinggi negara yang dekat dengan kalangan keluarga.
“Begini, saya akan segera mati. Saya ingin mewariskan apa yang saya miliki kepada kalian semua. Tolong sebutkan satu-persatu permintaan kalian,” ujar Soeharto.
“Ayahanda, saya minta semua jalan tol, stasiun televisi, vaksin polio dan…,” pinta Tutut.
“Ayahanda, saya minta tempat judi terbesar di dunia dan semua tambang minyak,” pinta anak ke dua, Sigit.
“Ayahanda, saya minta stasiun televisi, monopoli plastik, ponsel, satelit, dan …,” ucap Bambang.
“Ayahanda, saya minta jembatan, bank, reksadana, galeri, dan…,” ucap Titiek.
“Ayahanda, permintaan saya tak banyak. Saya cuma minta hak monopoli cengkeh, mobil nasional, supermarket, sirkuit balap, tanker, pesawat terbang, LNG, dan … dan …,” pinta Tommy yang merupakan anak kesayangan.
Harto meminta agar para pejabat tinggi mencatat semua permintaasn anak-anaknya secara rinci. Tapi rupanya belum semua anak Soeharto menerima warisan. Si anak bungsu, Mamiek, belum mengajukan permintaan apa pun. Sedari awal pertemuan ia tampak hanya menundukkan mukanya. Wajahnya memerah, malu-malu.
Soeharto yang tak tahan dan ingin mengetahui permintaan anak bungsu yang paling dicintai almarhumah istrinya itu lantas bertanya, “Anakku yang paling ayu, ayo, jangan sungkan-sungkan. Semua kakakmu sudah mengajukan permintaan. Permintaanmu sendiri apa?”
Mamiek tak menjawab. Sambil menundukkan wajahnya, ia hanya menggigit-gigit kukunya. Dan ketika didesak, Mamiek hanya bilang, “Ah…malu, Pak.”
“Oalah Nduk, sebutkan semua permintaanmu niscaya semuanya aku kabulkan. Tapi jangan minta yang satu itu. Yang itu aku sudah tak punya,” ujar Soeharto.
Kisah Harmoko Waktu Muda
Waktu Harmoko muda dan cari pekerjaan ke Jakarta, ia mengikut tes untuk jadi wartawan “Merdeka”. Ia dipanggil masuk kedalam, orang yang mengetestnya adalah Rosihan, temannya. Harmoko lega. Jam itu adalah jam tes kemampuan berhitung. Karena ini test psikologi, pertanyaannya agak aneh.
Pertanyaan pertama, “Apa yang terbuat dari karet, berbentuk seperti bakiak, dan dipakai di kaki kiri ketika orang di kamar mandi?,’
Harmoko bingung. Melihat itu Rosihan membisikinya, “Sebuah sandal jepit.”
Pertanyaan ke dua, “Apa yang terbuat dari karet, berbentuk seperti bakiak, dan dipakai di kaki kiri serta di kaki kanan ketika orang di kamar mandi?”
Harmoko kembali bingung. Rosihan kembali membisikinya, “Sepasang sandal jepit.”
Test kemampuan berhitung hari itu selesai. Besoknya Harmoko disuruh datang lagi. Ia masuk ke ruang ujian, tapi kali ini kecewa, karena yang menunggui test hari ini bukan Rosihan lagi, melainkan seseorang yang ia tidak kenal. Dengan agak dag-dig-dug, Harmoko duduk. Hari ini test pengetahuan umum.
Pertanyaan: Apa yang terletak di Mekah yang menjadi tanda arah bagi ummat Islam waktu bersembahyang?”
Kali ini Flarmoko tersenyum. Ia sudah tahu jawabnya, “Tiga buah sandal jepit.”

